Sulteng -BNI.co.id
Guncangan gempa bumi Magnitudo 6.7 yang terjadi Sekitar pukul 10.27 Wita di wilayah Sulawesi Tengah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi warga pesisir, hari dan tanggal Selasa 16 Juni 2026.
Tidak lama setelah gempa terasa, tercatat fenomena alam di mana air laut secara tiba-tiba mengalami penurunan drastis atau surut jauh dari garis pantai. Kondisi ini diketahui sebagai salah satu tanda alami yang sering menjadi peringatan dini akan datangnya gelombang tsunami. Selasa 16 Juni 2026.
Fenomena ini sempat diamati oleh warga dan petugas di sejumlah wilayah pesisir, yang kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada pihak berwenang.
Air laut yang menjauh hingga puluhan meter dari batas normal membuat dasar laut terlihat jelas, sekaligus memicu kewaspadaan bersama mengingat letak wilayah ini berada di jalur rawan gempa dan bencana laut.
Gempa dengan kekuatan yang cukup terasa mengguncang sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Beberapa saat setelah guncangan mereda, warga di daerah pesisir menyaksikan perubahan kondisi air laut yang tidak biasa.
“Setelah tanah terasa berguncang, tidak sampai 10 menit air laut tiba-tiba surut sangat jauh, tidak seperti pasang surut biasa. Kami langsung teringat peringatan bahwa ini bisa jadi tanda tsunami,” ujar salah satu warga yang berada di pesisir, Senin (16/6/2026).
Berdasarkan penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), surutnya air laut secara tiba-tiba adalah reaksi alamiah ketika terjadi pergeseran dasar laut akibat gempa.
Jika dasar laut bergerak naik atau turun secara tiba-tiba, maka massa air di atasnya akan bergerak mengikuti, yang bisa terlihat sebagai surutnya air sebelum kemudian bergerak kembali menuju daratan dalam bentuk gelombang besar.
Menyikapi kondisi ini, pihak BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah segera mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh warga, terutama yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir:
1. Segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi – Jika merasakan guncangan gempa yang cukup kuat, atau melihat air laut surut secara tidak wajar, segera tinggalkan pantai dan pindah ke tempat yang memiliki ketinggian minimal 5 meter dari permukaan laut atau berjarak cukup jauh dari garis pantai.
2. Jangan mendekati pantai – Hindari keinginan untuk melihat dasar laut yang terlihat atau mengambil hewan laut yang tertinggal saat air surut, karena gelombang bisa datang dengan cepat dan tiba-tiba.
3. Pantau informasi resmi – Ikuti perkembangan informasi terbaru dari BMKG, BPBD, dan media resmi. Jangan mudah percaya pada berita yang belum jelas kebenarannya.
4. Siapkan rencana evakuasi – Pastikan keluarga mengetahui jalur evakuasi dan tempat berkumpul yang aman jika terjadi keadaan darurat.
Penjelasan Singkat: Mengapa Air Laut Surut Sebelum Tsunami?
Surutnya air laut bukanlah penyebab tsunami, melainkan tanda peringatan dini alami. Saat gempa terjadi di dasar laut, pergeseran lempeng bumi menciptakan rongga atau perubahan ketinggian dasar laut. Air akan mengalir mengisi ruang tersebut, sehingga terlihat seolah-olah laut surut.
Setelah rongga terisi, air tersebut akan bergerak kembali ke arah daratan membentuk gelombang tsunami yang bergerak cepat.
Perlu diingat, tidak semua gempa atau surutnya air laut pasti menyebabkan tsunami, namun kewaspadaan tetap harus dijaga karena waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri sangat singkat.
Sampai berita ini diturunkan, pihak berwenang terus memantau perkembangan kondisi alam di wilayah Sulawesi Tengah. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun tetap waspada, serta selalu mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.









