Bungo-BNI.co.id

Kabut asap tebal masih menyelimuti Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, hingga hari ini. Padahal kondisi ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir, sejak Juli 2026. Asap yang kian pekat kini bukan sekadar mengganggu pandangan, melainkan mulai dirasakan sangat menyiksa warga — perih di mata, tenggorokan kering, dan gangguan pernapasan yang kian meluas. Selasa 8 September 2026.

Situasi ini ironis mengingat sebelumnya Gubernur Jambi dilaporkan menyatakan wilayahnya “zero kebakaran hutan”, pernyataan yang kemudian diyakini Presiden. Namun realitas di lapangan berbicara lain: asap terus mengepul, dan warga tetap menderita.

Laporan bahwa Provinsi Jambi bebas dari kebakaran hutan dan lahan sempat disampaikan hingga ke tingkat pusat. Presiden pun diyakini yakin bahwa wilayah itu sudah aman dari ancaman kebakaran.

Namun kenyataan di Kabupaten Bungo dan daerah lainnya membuktikan sebaliknya — asap tebal tak kunjung hilang, dan kian hari kian pekat.

Kesalahan informasi ini kemudian memicu gelombang protes. Minggu berikutnya, Organisasi Masyarakat Grib Jaya menggelar demonstrasi besar-besaran ke Kantor Gubernur Jambi.

Mereka menegaskan: di sejumlah lokasi di Jambi, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi. Klaim “zero kebakaran” dinilai tidak sesuai fakta di lapangan.

Hingga hari ini, 8 September 2026, kabut asap masih menyelimuti Bungo. Dampaknya sudah merambah ke berbagai sektor kehidupan:

– Kesehatan terancam — Warga mengeluhkan mata perih, tenggorokan sakit, dan gangguan pernapasan. Lansia dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan.

– Pendidikan terganggu — Dinas Pendidikan terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar tatap muka. Siswa kini belajar secara daring dari rumah demi menghindari paparan asap.

– Aktivitas harian terhambat — Jarak pandang berkurang drastis, menyulitkan pergerakan warga dan transportasi.

Diduga kuat ada unsur kesengajaan: oknum buka lahan tanpa modal di balik asap?

Banyak pihak menduga bahwa kebakaran yang terjadi bukan murni bencana alam, melainkan akibat ulah oknum yang sengaja membakar hutan dan lahan demi membuka lahan baru tanpa biaya. Dugaan ini menguat karena kebakaran terus berulang setiap tahun, seolah menjadi pola yang terencana.

“Membakar hutan itu cara termudah dan termurah untuk membuka lahan. Tapi biayanya ditanggung seluruh masyarakat — kesehatan rusak, ekonomi terganggu, dan lingkungan hancur.”

Jika ini dibiarkan tanpa penindakan tegas, dikhawatirkan kebakaran akan terus berulang dan menjadi semakin parah di tahun-tahun mendatang.

Masyarakat Jambi, khususnya warga Bungo, memohon kepada pemerintah provinsi untuk:

– Menangani bencana asap secara sungguh-sungguh — bukan sekadar laporan ke atas, tapi nyata di lapangan.

– Menindak tegas pelaku pembakaran lahan — jika terbukti ada unsur kesengajaan, berikan efek jera yang berat agar tidak terulang.

– Perbaiki sistem pengawasan — jangan sampai laporan “aman” disampaikan padahal asap masih mengepul.

– Pulihkan kesehatan masyarakat — sediakan fasilitas kesehatan dan obat-obatan bagi warga yang terdampak.

Kabut asap di Bungo bukan sekadar kabut biasa. Ia adalah peringatan keras bahwa klaim tanpa verifikasi di lapangan hanya akan menutupi kebenaran dan menyengsarakan rakyat.

Jika pemerintah tidak segera bertindak tegas, tidak hanya hutan yang akan hilang — tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah itu sendiri.

“Jangan biarkan asap menutupi kebenaran. Jangan biarkan kebakaran tahunan menjadi warisan bagi anak cucu kita.”

Bagikan :