BOGOR – BNI.co.id
Hujan deras yang mengguyur wilayah Bogor pada Rabu (29/4/2026) sore memicu bencana tanah longsor di Kampung Kebon Manggis, Kelurahan Paledang, Kota Bogor. Insiden yang terjadi pada Kamis (30/4/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB ini mengakibatkan akses utama warga terputus total dan mengancam keberadaan sejumlah bangunan di sekitarnya.
Longsoran setinggi 25 meter dengan lebar mencapai 120 meter tersebut menimpa fasilitas toilet umum yang berada tepat di tepian Sungai Cipakancilan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun dampak material dan psikologis bagi warga sangat terasa.
Menurut penuturan Aas (52), salah seorang warga setempat, tanda-tanda kerusakan jalan sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Warga pun sempat berupaya melakukan kerja bakti secara swadaya untuk menambal retakan-retakan pada aspal.
Awalnya memang jalannya sudah retak-retak, sama warga sudah ditambal. Ternyata pas kemarin retak lagi ditimpa air hujan pas sore hari,” ujar Aas kepada Awak Media BNI.co.id.
Ia menambahkan bahwa warga tidak segera melapor ke pihak kelurahan karena mengira perbaikan swadaya tersebut cukup kuat menahan beban jalan. Namun, air hujan yang masuk ke celah retakan membuat kondisi tanah menjadi labil hingga akhirnya ambruk.
Aas menceritakan detik-detik mencekam saat ia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara retakan tanah yang sangat keras. Begitu memeriksa keluar, ia mendapati jalanan sudah amblas dan langsung bergegas membangunkan warga lain untuk waspada.
Senada dengan Aas, Ilyas, warga lainnya yang terdampak, mengaku dibangunkan oleh tetangga tepat sebelum longsor terjadi. “Lagi tidur, ada yang bangunin, ‘Abah bangun Abah mau longsor’. Pas saya keluar belum ambruk, saya nongkrong di depan dulu. Begitu mau longsor, saya langsung lari bareng warga,” kenang Ilyas yang kini terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya.
Dampak dari longsoran ini cukup masif. Sedikitnya enam bangunan kini berada dalam posisi rawan dan terancam ambruk jika terjadi longsor susulan. Bangunan tersebut terdiri dari lima rumah tinggal warga dan satu gedung madrasah.
Selain ancaman terhadap bangunan, akses mobilitas warga kini lumpuh total. Jalan yang selama ini menjadi jalur aktif bagi siswa sekolah dan pengendara motor tersebut tidak bisa lagi dilalui.
Akibatnya, warga harus memutar jauh melalui Jalan Paledang atau jalur alternatif melalui RT 03 Lebaksari.
Aturan kan ini jalan hidup, anak sekolah lewat sini semua. Motor juga biasanya lewat sini,” tambah Aas dengan nada prihatin.
Saat ini, warga diimbau untuk tetap waspada, terutama mengingat curah hujan yang masih tinggi dan kondisi di bawah jalan yang diketahui sudah kosong atau tergerus.






