Luwu Utara – BNI.co.id
Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) POHES-18 Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, menghadirkan inovasi pelatihan operator alat berat tahun 2026 yang berfokus pada aspek keselamatan, kualitas kompetensi, dan pemberdayaan putra daerah.
Lembaga ini didirikan oleh Sukatmono, ST.
Kegiatan ini menerapkan kurikulum berstandar nasional Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dengan metode pembelajaran terbaru, menggabungkan penggunaan 2 unit simulator excavator dan 1 unit alat berat asli.
Metode ini diklaim mampu menurunkan risiko kecelakaan kerja selama proses pelatihan hingga 90 persen serta menghemat biaya operasional hingga 60 persen.
Pelatihan yang diselenggarakan LPKS POHES-18 Sabbang ini ditujukan bagi pemuda daerah yang ingin menguasai keahlian operator alat berat dan memperoleh sertifikasi resmi.
Kegiatan berpusat di lingkungan LPKS POHES-18, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, dilaksanakan secara resmi pada tahun 2026 dengan total durasi mencapai 90 jam pelajaran.
Inovasi ini dihadirkan sebagai jawaban atas data Kementerian Ketenagakerjaan tahun 2025 yang menyebutkan minimnya pelatihan memadai menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan kerja.
Selain itu, upaya ini bertujuan agar putra-putri Luwu Utara tidak hanya menjadi penonton pembangunan di daerah sendiri, melainkan menjadi tenaga kerja profesional yang dibutuhkan sektor konstruksi dan pertambangan.
Sebanyak 70 persen materi praktik dilakukan menggunakan simulator, sementara 30 persen sisanya dilaksanakan langsung di atas unit excavator asli.
Metode ini memungkinkan peserta berlatih mulai dari kontrol dasar, teknik gali-muat, hingga penanganan kondisi darurat tanpa risiko merusak peralatan atau mencederai diri sendiri.
Ketua POHES 18 Luwu Utara menjelaskan, pendekatan ini membangun kebiasaan kerja yang aman sebelum peserta berhadapan dengan alat berat sesungguhnya.
“Di simulator, peserta boleh salah seratus kali.
Tapi saat naik unit asli, mereka sudah memiliki ingatan otot dan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kuat,” ujarnya saat menyampaikan keterangan kepada awak media bni.co.id, Senin (6/7/2026).
“Keselamatan nomor satu. Kami tidak mau ada peserta cedera saat belajar.
Makanya mayoritas latihan dilakukan di simulator dulu.
Kerusakan di simulator gratis, namun kerusakan di excavator asli ruginya bisa mencapai ratusan juta rupiah.”
“Biaya pelatihan menjadi lebih efisien 60 persen, namun kualitas kompetensi justru meningkat.
Ini solusi saling menguntungkan anggaran lebih hemat, peserta mendapatkan keahlian mumpuni, dan perusahaan memperoleh tenaga kerja siap pakai.”
“Anak Luwu Utara harus menjadi tuan rumah di tanah sendiri.
Dengan sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan kemahiran teknologi ini, mereka siap bersaing di berbagai proyek nasional maupun daerah.”
Lulusan pelatihan ini nantinya akan memperoleh sertifikat kompetensi resmi dari BNSP dan siap bekerja di sektor konstruksi serta pertambangan.
POHES 18 berharap metode pembelajaran campuran ini dapat menjadi percontohan pelatihan vokasi di wilayah Sulawesi Selatan.
Pendaftaran untuk gelombang pelatihan selanjutnya kini dibuka bagi pemuda Luwu Utara yang ingin mengembangkan karir di bidang alat berat.





