Luwu Utara-BNI.co.id

Pemerintah Desa Mario, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, menggelar pertemuan Tudang Sipulung sebagai langkah persiapan pelaksanaan musim tanam yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Mei hingga September 2026.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Mario dan dilaksanakan di Aula Kantor Desa Mario, pada Selasa, 28 April 2026 pukul 09.20 WITA, dengan dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan di bidang pertanian.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Mario, Nursan, menyatakan bahwa pertemuan ini diselenggarakan guna menyamakan pandangan, langkah, dan persepsi di antara seluruh pelaku usaha tani.

Hal ini dimaksudkan agar setiap tahapan kegiatan pertanian yang dijalankan nanti dapat berjalan secara terkoordinasi dan sesuai rencana.

Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Baebunta, Nasrun,Sp.menegaskan bahwa Tudang Sipulung bukan sekadar warisan budaya semata, melainkan juga perwujudan nyata dari nilai musyawarah yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat tani.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi penyuluh, petani, tokoh masyarakat, dan perangkat desa untuk saling bertukar pikiran, menyatukan aspirasi, serta merumuskan kesepakatan bersama.

“Kami berharap dari pertemuan ini dapat dihasilkan rumusan yang nyata, mudah diterapkan, dan dapat dijadikan acuan dalam menyusun rencana kerja budi daya tanaman.

Selain itu, momen grup yang kami betuk ini juga dimanfaatkan untuk mempererat komunikasi dan berbagi informasi, sehingga ikatan kerja sama di antara seluruh pihak tetap terjalin dengan baik maka disarankan jangan ada yang keluar,” ujar Nasrun.

Pengamat Hama Tanaman Kabupaten Luwu Utara, Muis, menambahkan bahwa keseragaman waktu pelaksanaan tanam menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Ia mengimbau agar seluruh petani memulai kegiatan tanam secara bersamaan pada bulan Mei, serta menghindari perbedaan jadwal yang cukup jauh.

Hal ini dinilai perlu dilakukan guna mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit, yang sering kali menyebar lebih luas apabila masa pertumbuhan tanaman di satu wilayah tidak berjalan beriringan.

Penetapan Jadwal Tanam
Berdasarkan kesepakatan yang diambil, pelaksanaan tanam dianjurkan berlangsung pada pekan kedua dan ketiga bulan Mei, serta diupayakan tidak melewati bulan Juni.

Penetapan jadwal ini tidak ditentukan secara sepihak, melainkan disusun berdasarkan hasil pengamatan dan analisis dari Dinas Pertanian.

Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan antara lain kondisi iklim, jumlah curah hujan, tingkat penyinaran matahari, serta kelembapan udara—seluruhnya merupakan unsur penentu utama keberhasilan pertumbuhan tanaman.

Selain itu, pola pelaksanaan ini juga mengacu pada pengalaman dan hasil yang telah terbukti baik pada musim-musim tanam sebelumnya.

Ancaman Hama dan Penyakit
Untuk musim tanam kedua tahun ini, tercatat beberapa jenis hama dan penyakit yang umum muncul secara berkala, dengan tingkat serangan yang bervariasi dari ringan hingga berat.

Oleh karena itu, langkah pencegahan dan pengendalian perlu disiapkan sejak dini secara terpadu dan melibatkan seluruh petani. Beberapa ancaman utama yang diwaspadai antara lain:

– Hama Penggerek Batang Padi: Hama ini juga dikenal sebagai “hama malam” karena memiliki kebiasaan terbang dan mendekati sumber cahaya pada waktu malam hari.

Penanganannya akan berjalan efektif apabila dilakukan secara serentak dan melibatkan partisipasi seluruh pelaku usaha tani.

– Wereng Batang Coklat: Menjadi perhatian khusus di wilayah Kecamatan Baebunta, jenis hama ini tercatat sebagai salah satu pengganggu utama pertanian di Indonesia, dan pernah menduduki peringkat ketiga sebagai hama dengan tingkat serangan tertinggi.

Ancaman yang ditimbulkannya akan semakin besar apabila menyerang tanaman dari jenis varietas yang memiliki ketahanan rendah.

Bagikan :