Samarinda-BNI.co.id

Di saat ratusan anggota KSP BMT Nurul Hidayah Tanah Merah dilanda keresahan karena manajer lama koperasi meninggalkan tanggung jawab, secercah harapan muncul.

Helmi Abdullah, hadir sebagai salah seorang pengurus, sekaligus sosok yang berusaha menenangkan gejolak.

Ia turun tangan membantu mengembalikan sebagian dana anggota dan berupaya menyelamatkan nasabah yang terancam kehilangan simpanan mereka.

Di Tanah Merah, cerita tentang koperasi yang dulunya menjadi tumpuan ekonomi warga berubah menjadi kabar pahit.

Sejak ditinggalkan ketuanya, Ali Gais sudah sepuh, koperasi itu limbung karena manajer sekaligus penanggung jawab, M. Soleh, justru melarikan diri.

“Manajer yang seharusnya bertanggung jawab menghilang, meninggalkan tumpukan masalah keuangan yang membuat anggota panik,” ujar Helmi.

Dana nasabah sudah di kembalikan semua cuma ada beberapa data nasabah yangg tidak masuk di data, maka akan di selesaikan atau di bayar ketika ada merasa belum di bayar dengan memberikan bukti buku tabungannya.

Dalam suasana penuh kegelisahan, Helmi Abdullah hadir. Bukan untuk mencari posisi, melainkan untuk membantu menanggulangi persoalan yang ditinggalkan pengurus lama.

Helmi menyadari, kehadirannya sebagai salah seorang pengurus membuat anggota menaruh harapan besar.

Dengan langkah hati-hati, ia berusaha memastikan agar sebagian dana anggota dapat kembali, meski tidak sepenuhnya mampu menutupi kerugian yang ada.

“Ketika manajemen lama tidak lagi bertanggung jawab, Waktu kejadian awal saya diundang pak Ali gais memberitahukan bahwa di koperasi ada masalahsaya. merasa tidak bisa berdiam diri.

Banyak anggota datang mengadu. Maka saya hadir, sebatas membantu mengembalikan dana yang masih bisa diselamatkan. Saya ingin anggota tahu bahwa mereka tidak ditinggalkan,” tegas Helmi.

Langkah ini menjadi ibarat udara segar bagi anggota. Meski kerugian belum sepenuhnya tertutupi, kehadiran Helmi menenangkan kepanikan dan memberi arah penyelesaian. Ia menekankan, perannya lebih sebagai bentuk kepedulian sosial agar koperasi tidak runtuh sepenuhnya.

“Sayangnya, karena sepeninggal manajer tidak ada lagi aset tersisa, kondisi koperasi kini benar-benar vakum,” tambahnya. Salah seorang anggota, Nur Putri Alex mengaku lega setelah adanya campur tangan Helmi.

“Awalnya saya sudah pasrah, uang tabungan mungkin hilang. Tapi setelah Pak Helmi hadir dan mengembalikan sebagian dana, hati saya jadi lebih tenang. Kami merasa ada yang peduli dengan nasib kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Senada, Nanang Alex, anggota lainnya, menyebut langkah Helmi sebagai bentuk keberpihakan pada rakyat kecil. “Kami ini hanya warga biasa, simpan uang di koperasi untuk kebutuhan darurat. Waktu koperasi bermasalah, kami panik.

Kehadiran Helmi memberi harapan. Meski belum semuanya kembali, setidaknya ada kepastian,” ungkapnya.

Kini, meski masalah koperasi masih membutuhkan penyelesaian jangka panjang, kehadiran Helmi menjadi penanda bahwa di tengah krisis selalu ada figur yang berupaya menjaga harapan tetap hidup.

“Saya ingin meluruskan. dan ingin memastikan ada solusi sementara, demi menenangkan anggota yang resah,” tuturnya.

Sebagai Ketua DPRD Kota Samarinda selama dua periode, Helmi menegaskan bahwa seharusnya yang paling bertanggung jawab adalah manajer koperasi, M. Soleh.

Namun, ia menghilang begitu saja saat koperasi dilanda masalah, meninggalkan persoalan besar yang kini membebani para nasabah.

Bagikan :