Luwu Utara-BNI.co.id
Di tengah meriahnya perayaan 80 tahun Indonesia Merdeka, sebuah dusun di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, masih berjuang melawan kegelapan. Dusun Salupaku, Desa Tandung, Kecamatan Sabbang, menjadi rumah bagi sekitar 300 jiwa yang hidup tanpa akses listrik memadai.
Kehidupan mereka bergantung pada sebuah turbin yang sudah tua dan seringkali tak berfungsi akibat banjir atau kemarau. Rabu 6 Agustus 2025.
“Turbinnya sudah rusak-rusak. Kalau banjir, pasir banyak masuk Makanya kami tidak fungsikan. Kalau kemarau, air tidak mengalir makanya turbin tidak bisa digunakan,” ungkap Reskiawan, salah satu warga Dusun Salupaku.
Ia mewakili keluhan 90 kepala keluarga (KK) yang tinggal di pemukiman tersebut. Mereka hanya bisa berharap pada secercah cahaya dari turbin yang tak menentu.
Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat keterbatasan akses informasi dan teknologi.
Kehidupan sosial dan ekonomi warga pun terhambat. Anak-anak kesulitan belajar di malam hari, sementara para orang tua kesulitan menjalankan usaha kecil-kecilan.
Namun, di balik kesulitan tersebut, terpancar semangat gotong royong yang tinggi. Warga Dusun Salupaku menyatakan kesiapan mereka untuk membantu PLN jika program elektrifikasi benar-benar terwujud.
“Tidak usah tiang beton, tiang besi kecil saja kami sudah bersyukur, asalkan listrik masuk,” ujar salah satu warga.
Harapan besar kini tertuju pada pemerintah. Warga Dusun Salupaku berharap agar keluhan mereka didengar dan segera mendapatkan solusi berupa akses listrik yang layak.
Mereka ingin merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, terbebas dari kegelapan dan keterbatasan.
Semoga cahaya listrik segera menyinari Dusun Salupaku, membawa harapan baru bagi 300 jiwa yang telah lama merindukannya.






