Oleh : R. Rizky N Natawijaya

Seringkali kita terjebak pada pandangan bahwa kemuliaan seseorang terletak pada penampilan fisik, jabatan, atau harta yang ia miliki. Padahal, pada bab Syakhshiyyah yang saya rangkum ini mengingatkan kita dengan tegas bahwa itu semua hanyalah kulit luar yang tidak menentukan tinggi rendahnya derajat seorang manusia.

Kepribadian yang sesungguhnya (Al-Syakhshiyyah) dibangun di atas dua pilar utama: Pola Pikir (Al-Aqliyah) dan Pola Jiwa (Al-Nafsiyyah). Seseorang disebut memiliki kepribadian Islam bukan karena penampilannya, melainkan karena ia menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya standar untuk memahami fakta kehidupan dan sekaligus sebagai kompas untuk memenuhi seluruh keinginan serta kebutuhan nalurinya.

Bahayanya, banyak dari kita hari ini mengalami “pecah kepribadian.” Di satu sisi, akalnya memahami hukum Allah, namun di sisi lain, jiwanya masih mengejar kecenderungan yang bertentangan dengan hukum tersebut. Inilah yang membuat seseorang menjadi lemah dan tidak memiliki ciri khas.

Kepribadian yang khas (Mutamayyizah) hanya akan lahir jika ada keselarasan mutlak; saat apa yang kita pikirkan sejalan dengan apa yang kita rasakan, dan keduanya tunduk pada aturan Allah SWT.

Mari kita bentuk diri kita menjadi pribadi yang kokoh, yang tidak hanya tajam dalam berpikir, tetapi juga lurus dalam merasa, agar setiap langkah kita menjadi bukti nyata dari keimanan yang kokoh.

Bagikan :