Oleh: R.Rizky N Natawijaya
Salam sejahtera bagi kita semua. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad.
Perkenalkan, saya adalah seorang Muslim dari lahir dan tumbuh dalam keluarga Muslim.
Sebagai seorang hamba, cita-cita tertinggi saya adalah menjadi seorang Muslim yang berislam secara *kaffah* (menyeluruh).
“Jujur, dulu saya adalah seorang Muslim yang tidak terikat pada mazhab tertentu; setiap kali ditanya, saya selalu menjawab bahwa Islam saya hanya berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah, selesai.
Namun, alhamdulillah, atas ketetapan hati, saat ini saya memilih untuk bermazhab pada Imam Ahmad bin Hanbal. Sekarang, saya ingin membahas sedikit tentang Masjid.
Dari dulu, saya memang gemar melakukan “safari masjid” berkunjung dari satu rumah Allah ke rumah Allah lainnya meskipun prioritas utama saya tetap memakmurkan masjid atau mushola di lingkungan tempat saya berdomisili.
Dalam perjalanan ini, saya banyak belajar tentang tasamuh (toleransi). Sebagai contoh, meskipun saya pribadi tidak mengamalkan doa qunut pada shalat Subuh di mana pun saya berada, saya tidak pernah mempermasalahkan praktik ibadah di tempat tersebut.
Baik itu masjid yang mengamalkan dzikir dengan suara keras maupun doa berjamaah, saya tetap menghargainya dan beribadah dengan tenang di sana, walaupun secara pribadi saya tidak melakukannya.
Prinsip saya sederhana, saya berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana janji Allah bahwa dengan mengikuti jejak langkah Nabi, maka cinta Allah akan kita rengkuh.
Namun, ada hal yang membuat hati saya miris. Saya sering melihat adanya gesekan atau sekat-sekat perbedaan yang tajam di antara para jamaah, baik itu kelompok minoritas maupun mayoritas. Padahal, Allah SWT telah berfirman dengan sangat jelas dalam **QS. Ali ‘Imran: 31
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’
Landasan inilah yang seharusnya menyatukan kita. Rasulullah ﷺ juga menguatkan hal tersebut dalam sebuah hadist:
“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia sungguh mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.”* (HR. Tirmidzi).
Bahkan dalam perkara ibadah yang paling mendasar sekalipun, rujukannya sangat simpel. Beliau bersabda: *”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.
Oleh karena itu, wahai saudaraku, mari kita kembalikan semangat persatuan di dalam masjid maupun komunitas. Janganlah kita memisahkan diri, menjauh, apalagi memutus silaturahmi hanya karena perbedaan mazhab atau kelompok.
Sadarilah, jika kita benar-benar ingin menjadi seorang Muslim yang berislam secara *kaffah*, maka fondasi utamanya adalah mengikuti Sunnah sembari tetap menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam ketaatan dan mempersatukan hati kita di atas jalan-Nya yang lurus.
Penulis ini adalah kepala perwakilan Bedah Nusantara Indonesia, R Rizky Noor Natawijaya






