Oleh : Deny Febrian
Dosen di Universitas Insan Cita Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, konten yang berbau sensual telah menjadi salah satu fenomena yang semakin marak terjadi di berbagai platform media sosial. Konten ini seringkali menampilkan elemen visual yang dianggap menarik secara seksual, mulai dari tarian dengan pakaian terbuka hingga pose-pose menggoda yang sengaja ditunjukan Dalam bukunya, “The Mating Mind: How Sexual Choice Shaped the Evolution of Human Nature,” Geoffrey Miller mengemukakan bahwa daya tarik fisik dan sensual memiliki peran penting dalam evolusi manusia.
Hal ini juga didukung sudut pandang psikologi evolusi secara umum, yang menunjukkan bahwa manusia secara alami cenderung tertarik pada hal-hal yang bersifat sensual karena berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi dan kelangsungan hidup.
Otak manusia merespon rangsangan sensual dengan melepaskan dopamin, ini semakin menegaskan bahwa daya tarik sensual memenuhi kebutuhan psikologis manusia dalam hal kesenangan dan kepuasan.
Di era digital saat ini, kecenderungan tadi diperkuat oleh sistem algoritma di media sosial yang secara sistematis mendorong konten-konten dengan interaksi tinggi, termasuk salah satunya yang bersifat sensual. Misalnya bagaimana platform TikTok menawarkan format video singkat yang secara langsung menampilkan inti video.
Dan Didukung dengan elemen visual dan audio yang dikombinasikan secara kreatif dan menarik, platform ini dapat dengan mudah memberikan dosis dopamin instan kepada penonton dan bahkan bisa dilakukan secara terus-menerus menerpa para penontonnya.
Dalam Psikologi dikenal konsep yang disebut hedonic adaptation. Sonja Lyubomirsky dalam bukunya “The How of Happiness: A New Approach to Getting the Life You Want” menjelaskan konsep hedonic adaptation, di mana otak manusia cenderung mencari hal-hal yang memberikan kepuasan cepat dan terus-menerus.
Fenomena ini menjelaskan mengapa konten yang dapat memberikan kepuasan instan seperti konten sensual, seringkali dapat dengan mudah menjadi viral.
Karena selain memenuhi kebutuhan psikologis penonton, konten tersebut juga memanfaatkan rasa takut ketinggalan (fear of missing out) dari para penontonnya. Hal ini ditunjukan dengan tingginya interaksi dalam setiap kolom komentarnya.
Memang tidak semua kreator konten sensual memiliki motivasi yang sama. Beberapa melihat ini sebagai bentuk ekspresi diri dan kepercayaan diri terhadap tubuh mereka. Namun ada juga yang memanfaatkan tren kontroversi ini sebagai jalan pintas untuk mendulang popularitas.
Saat ini, jumlah pengikut adalah aset berharga yang dapat dikonversi menjadi peluang ekonomi, seperti endorsement dan kontrak kerja lainnya. Namun ketika kita mencoba melihat motivasi ini dalam kerangka yang lebih besar. Pada masyarakat patriarki, tubuh perempuan kerap dipandang sebagai objek.
Sehingga ketika perempuan memilih untuk menggunakan tubuh mereka sebagai bagian dari konten. Disana juga turut ada pergeseran kuasa: dimana mereka bukan lagi sekadar objek akan tetapi telah menjadi aktor yang mengontrol narasi mereka sendiri.
Ibarat pedang bermata dua, di satu sisi mereka bisa mendapatkan pengaruh dan ketenaran, akan tetapi di sisi lain mereka juga bisa terjebak dalam ekspektasi pasar yang mengharuskan mereka untuk dapat terus relevan dengan menampilkan konten-konten yang lebih provokatif setiap harinya demi mempertahankan pengaruh dan ketenaran tadi.
Fenomena ini sebenarnya tidak terlepas dari apa yang sering kita kenal sebagai kapitalisme digital. Prinsip “sex sells” yang sudah lama dikenal dalam dunia pemasaran, yang kini turut menemukan bentuk baru di media sosial.
Algoritma pada platform sosial media seperti TikTok, secara aktif memprioritaskan konten-konten yang dapat memicu interaksi tinggi dan salah satunya yang memenuhi kriteria ini adalah konten yang berbau sensual.
Dengan semakin tingginya jumlah penonton dan durasi tontonan, maka semakin sering pula konten serupa akan direkomendasikan kepada pengguna lain. Siklus semacam inilah yang ikut memperkuat popularitas konten sensual sekaligus menciptakan tekanan bagi para kreator untuk terus menampilkan sesuatu yang lebih menarik secara seksual.
Sayangnya, fenomena ini tidak hanya berdampak pada orang dewasa. Akan tetapi turut membawa dampak negatif bagi anak-anak dan remaja yang juga menjadi penonton utama di platform seperti TikTok.
Menurut data Survei Konsumsi Pornografi di Kalangan Anak yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2017, didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa 66,6% anak laki-laki dan 62,3% anak perempuan pernah mengakses konten pornografi melalui media online.
Hal ini menunjukkan betapa mudahnya konten dewasa di internet dapat diakses oleh semua kalangan. Selain itu, tekanan sosial terhadap kreator perempuan juga turut menjadi isu penting. Mereka seringkali mendapat kritik lebih keras dibandingkan laki-laki yang membuat konten serupa.
Ini turut memperkuat bahwa adanya standar ganda dalam masyarakat kita saat ini. Teori male gaze dari Laura Mulvey menyebutkan bahwa media sering merepresentasikan perempuan sebagai objek pandangan laki-laki. Dan dalam konteks di platform TikTok, ini terlihat jelas pada komentar-komentar yang lebih sering berfokus pada penampilan kreator perempuan dibandingkan aspek lain dari kontennya.
Disaat beberapa kreator perempuan mungkin merasa ini adalah bentuk dari ekspresi diri, disaat yang bersamaan muncul risiko objektifikasi dan ekspektasi yang merugikan mereka dalam jangka panjang.
Sudah seharusnya media sosial menjadi ruang kebebasan berekspresi yang sehat, bukan sekadar tempat untuk sekadar ikut-ikutan tren kontroversi yang merugikan.





