Oleh : R.Rizky Noor Natawijaya
Setiap manusia pada hakikatnya dibekali dengan potensi kehidupan yang menuntut pemenuhan. Salah satunya adalah naluri atau gharizah yang berbeda dengan kebutuhan jasmani.
Jika kebutuhan jasmani seperti makan dan minum bersifat internal dan berujung pada kematian jika tidak dipenuhi, maka naluri lebih didorong oleh pemikiran atau fakta yang terindera. Jika naluri tidak terpenuhi, manusia tidak akan mati, namun ia akan terus merasa gelisah dan tidak tenang hingga kebutuhan batin tersebut terpenuhi.
Salah satu naluri yang paling mendasar adalah naluri beragama atau gharizah al-tadayyun. Ini adalah perasaan fitrah yang membuat manusia mengakui adanya Sang Pencipta lagi Pengatur, terlepas dari bagaimana seseorang menafsirkan sosok Pencipta tersebut.
Naluri ini muncul dalam bentuk penyucian atau pengagungan terhadap sesuatu yang dianggap Maha Agung. Itulah sebabnya, sepanjang sejarah manusia, tidak pernah ditemukan masyarakat yang benar-benar kosong dari aktivitas penyembahan, baik itu menyembah Allah, bintang, api, maupun berhala.
Bahkan bagi mereka yang mengaku ateis, naluri beragama ini sebenarnya tidak hilang, melainkan hanya dialihkan. Mereka sering kali mengalihkan rasa pengagungan dan penyucian kepada makhluk, pahlawan, atau alam semesta akibat pemikiran dan penafsiran yang keliru.
Maka dari itu, kekufuran sebenarnya adalah tindakan yang sangat berat karena memaksa manusia untuk melawan tabiat aslinya sendiri. Sebaliknya, keimanan yang didasarkan pada hubungan antara akal dan perasaan akan mendatangkan ketenangan batin yang luar biasa, karena saat itulah fitrah manusia bersatu dengan akalnya dalam keyakinan yang pasti.





