Takalar-BNI.co.id

Semangat kecintaan kepada Rasulullah SAW kembali menyala di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar. Keluarga Besar Mustafa Al-Aidid menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung penuh khidmat dan diwarnai tradisi khas yang dijaga turun-temurun, dihadiri warga dari Desa Bonto Manai, Polongbangkeng, hingga Kelurahan Manongkoki. Tradisi ini di laksanakan dirumah Kediaman Mustafa Alaidid. Desa Cikoang Kabupaten Takalar Senin 7 September 2026.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan biasa, melainkan warisan leluhur yang berakar sejak zaman penyebaran Islam di Tanah Gowa-Takalar, bermula dari ajaran ulama besar Sayyid Jalaluddin Al-Aidid. Perhelatan ini pun tak lepas dari pengorbanan dan ketulusan warga, dengan biaya yang ditelan hingga puluhan juta rupiah — semata-mata sebagai wujud syukur dan cinta kepada Nabi.

Tradisi istimewa: ayam disemeliharaan 40 hari sebelum hari h

Salah satu keunikan yang paling menonjol dalam pelaksanaan Maulid Nabi versi Maudu’ Lompoa ini adalah persiapan hewan yang disembelih untuk jamuan bersama. Bukan sembarang ayam yang digunakan:

Ayam-ayam tersebut dipelihara secara khusus selama 40 hari sebelum hari H pelaksanaan Maulid.

Selama masa pemeliharaan, ayam-ayam itu dijaga dengan baik, diberikan pakan yang layak, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik.

Tujuannya bukan sekadar untuk mendapatkan daging yang baik, melainkan menyucikan dan membersihkan hewan tersebut sebelum dijadikan hidangan untuk para tamu yang hadir demi kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Ini mencerminkan filosofi: segala sesuatu yang dihadirkan untuk menghormati Nabi Muhammad SAW harus disiapkan dengan kesungguhan, kesabaran, dan kesucian hati.

Angka 40 hari pun bukan tanpa makna, melainkan merujuk pada tradisi keagamaan yang menggambarkan masa kesempurnaan persiapan dan penyucian diri.

Makna di balik biaya puluhan juta: tanda cinta yang tak ternilai

Menyelenggarakan Maulid dengan tradisi sedemikian rupa tentu tidak sedikit biayanya. Mulai dari persiapan tempat, bahan makanan, penyembelihan hewan, hingga penyambungan ribuan tamu yang hadir dari berbagai penjuru — total biaya yang dikeluarkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Namun bagi Keluarga Besar Mustafa Al-Aidid dan warga yang terlibat, angka tersebut bukan beban, melainkan kebahagiaan dan bentuk ibadah.

“Uang bisa dicari lagi, tapi kesempatan untuk menyembelih hewan dan menjamu tamu demi kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah keberkahan yang tak ternilai,” ungkap salah satu pengurus keluarga. “Kami melakukannya bukan karena mampu, tapi karena mencintai beliau.”

Berkumpulnya warga dari bonto manai hingga manongkoki

Kegiatan ini menjadi titik temu yang menyatukan masyarakat dari berbagai wilayah. Warga dari Desa Bonto Manai, Kecamatan Polongbangkeng, hingga Kelurahan Manongkoki berbondong-bondong hadir ke Desa Cikoang. Suasana tampak penuh keakraban, tanpa sekat — kaya dan sederhana duduk berdampingan, mendengarkan sholawat, kisah kelahiran Nabi, dan menikmati hidangan yang disiapkan dengan sepenuh hati.

Ini mencerminkan esensi dari ajaran Attareka yang berkembang di Cikoang: syariat dijalankan dengan benar, namun hakikatnya adalah kasih sayang dan persatuan antar sesama manusia.

Tradisi yang dijaga, cinta yang tak pernah pudar

Perayaan Maulid Nabi yang digelar Keluarga Besar Mustafa Al-Aidid di Cikoang ini bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah jembatan masa lalu dan masa kini, pengingat akan ajaran leluhur bahwa mencintai Nabi bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan persiapan yang tulus, pengorbanan yang ikhlas, dan persaudaraan yang kokoh.

Dengan ayam yang dipelihara 40 hari, biaya puluhan juta yang dihadirkan dengan sukarela, dan ribuan warga yang bersatu — satu pesan tegas tersampaikan: di Cikoang, Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran beliau, melainkan menghidupkan kembali akhlak beliau di tengah-tengah masyarakat.

“Menyembelih hewan dengan niat baik, menjamu tamu dengan hati tulus, dan merayakan kelahiran Nabi dengan penuh cinta — itulah inti dari perayaan ini.”

Bagikan :