Oleh: R. Rizky Noor Natawijaya
Islam bukan sekadar tumpukan informasi atau wawasan akademis yang hanya berhenti di kepala. Sejatinya, pemikiran Islam adalah *mafahim*, yaitu konsep-konsep yang memiliki makna faktual dan nyata untuk dipraktikkan dalam medan kehidupan.
Setiap pemikiran yang Allah turunkan, baik mengenai solusi persoalan harian maupun tentang hal gaib seperti surga dan neraka, adalah realitas yang harus diyakini secara pasti dan menjadi dorongan bagi perbuatan kita.
Islam tidak datang untuk dibahas layaknya ilmu astronomi, kedokteran, atau kimia yang tujuannya hanya untuk memanfataatkan alam semesta. Sebaliknya, Islam hadir sebagai petunjuk, rahmat, dan nasihat yang menjadi penentu bagaimana seorang manusia bersikap.
Jika kita memahami Islam hanya sebagai materi pengajaran atau wawasan intelektual semata, maka Islam akan kehilangan sifat aslinya (*al-shibghah al-ashliyyah*) sebagai pengatur hidup.
Ia akan berubah menjadi pengetahuan umum yang kering, sama seperti sejarah atau geografi, yang bisa dipelajari oleh siapa saja tanpa memberikan dampak perubahan pada jiwa pelakunya.
Oleh karena itu, adalah kewajiban bagi setiap Muslim untuk memandang Al-Quran dan Al-Hadits sebagai undang-undang kehidupan (*aspek amaliyah*), bukan sekadar materi akademis.
Bahkan ketika Al-Quran bercerita tentang alam semesta, tujuannya bukanlah untuk kajian ilmiah murni, melainkan sebagai bukti keagungan Allah agar manusia tunduk dan beriman.
Mengetahui hukum syariat tanpa merealisasikannya dalam perbuatan adalah sebuah musibah, karena tujuan tertinggi dari setiap pemikiran Islam adalah menjadi solusi nyata atas berbagai permasalahan manusia di dunia menuju keselamatan di akhirat.
Penulis ini adalah Kepala Perwakilan Bedah Nusantara Indonesia





