Oleh: R.Rizky Noor Natawijaya
Menulis berita dalam bingkai syariat Islam bukan sekadar menjalankan tugas profesi semata. Lebih dari itu, aktivitas ini merupakan sebuah bentuk ibadah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
Prinsip Kebenaran: Tabayyun
Landasan utama yang harus dipegang teguh oleh seorang jurnalis Muslim adalah prinsip Tabayyun. Sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an, setiap insan diminta untuk senantiasa meneliti dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum menyebarkannya kepada khalayak.
Hal ini menjadi sangat krusial agar pena yang digunakan tidak menjadi sarana atau wasilah tersebarnya fitnah. Kita wajib menjaga agar berita yang disampaikan tidak merugikan orang lain maupun menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Kesantunan: Qaulan Sadida
Selain memastikan kebenaran fakta, aspek kesantunan dalam penyampaian atau Qaulan Sadida juga menjadi pilar penting. Seorang penulis berita yang berlandaskan syariat harus mampu membedakan antara:
– Mengungkap kebenaran demi kepentingan umum (mashlahah), dengan
– Menyebarkan aib pribadi yang masuk dalam kategori ghibah.
Oleh karena itu, fokus pemberitaan sebaiknya diarahkan pada upaya perbaikan sistem dan edukasi publik. Hindari eksploitasi masalah hanya untuk mengejar popularitas atau jumlah pembaca semata, terutama melalui judul-judul yang menipu atau clickbait.
Niat: Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Integritas seorang jurnalis juga sangat tergantung pada niatnya dalam bekerja. Ketika setiap baris kalimat ditulis dengan niat amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah keburukan), maka media tersebut berubah fungsi menjadi mimbar dakwah yang modern.
Kita harus menyadari bahwa setiap huruf yang diterbitkan adalah saksi yang akan bicara di akhirat kelak. Dengan menjauhi provokasi dan berita bohong (hoaks), kita tidak hanya menjaga marwah profesi, tetapi juga ikut serta menjaga kedamaian dan ukhuwah di tengah keberagaman bangsa.
Dengan demikian, jurnalisme yang sesuai syariat adalah jurnalisme yang jujur dalam isi, santun dalam bahasa, dan memberikan manfaat bagi orang banyak.
Mari kita jadikan setiap karya jurnalistik kita sebagai amal jariyah yang terus mengalirkan kebaikan, bahkan setelah pena kita tidak lagi bergerak.






