Makasar-BNI.co.id

Kelangkaan tabung gas elpiji subsidi 3 kilogram kian terasa di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan. Agen, pangkalan, hingga pengecer melaporkan pasokan yang tidak menentu dan jumlah yang jauh dari kebutuhan riil. Minggu 6 September 2026.

Bukan sekadar ketidaknyamanan warga, kelangkaan ini perlahan namun pasti merugikan pelaku usaha mikro dan kecil yang menggantungkan bahan bakar harian pada gas subsidi tersebut.

Di sejumlah pangkalan dan pengecer di Makassar, Gowa, hingga Maros, antrean pembeli tabung 3 kg sudah menjadi pemandangan biasa. Namun seringkali, sebelum giliran tiba, stok sudah habis. Pangkalan mengaku jatah yang diterima hanya separuh dari permintaan, bahkan kadang lebih sedikit.

“Saya minta 10 tabung, yang dikirim cuma 40. Padahal langganan saya ratusan,” keluh seorang pemilik pangkalan di kawasan Panakkukang, Makassar. “Setiap hari ada yang datang, pulang dengan tangan kosong.”

Kondisi ini tak hanya terjadi di kota besar. Di daerah-dadaerah, akses terhadap tabung 3 kg makin sulit karena pasokan yang disalurkan ke wilayah terpantas terus berkurang.

Yang paling terimbas bukan hanya rumah tangga, melainkan ribuan pelaku usaha mikro dan kecil: pedagang nasi goreng, penjual gorengan, warung makan, pembuat kue, hingga pengrajin makanan tradisional. Bagi mereka, gas 3 kg adalah biaya produksi utama yang menentukan untung-rugi harian.

– Biaya produksi melonjak: saat tabung 3 kg tak ada, pelaku usaha terpaksa membeli tabung non-subsidi 12 kg yang harganya jauh lebih mahal. Selisih harga bisa mencapai dua kali lipat.

– Omzet turun: ada yang mengurangi jam operasional karena bahan bakar terbatas, bahkan ada yang tutup sementara.

– Kehilangan pelanggan: keterlambatan penyajian atau penurunan kualitas masakan akibat beralih ke bahan bakar lain membuat pelanggan berpindah.

– Risiko gulung tikar: bagi usaha yang margin keuntungannya tipis, kenaikan biaya bahan bakar sekaligus penurunan penjualan adalah kombinasi yang mematikan.

“Sekali beli gas mahal, untungnya habis. Kalau naikkan harga, pelanggan kabur. Mau bagaimana lagi?” ujar Widyawati, penjual Coto Bontoduri di kawasan pasar Bontoduri.

Banyak pihak mempertanyakan akar masalahnya. Apakah pasokan nasional berkurang? Atau ada ketimpangan dalam penyaluran, di mana tabung subsidi justru mengalir ke saluran yang tidak tepat? Padahal, tabung 3 kg disubsidi negara agar masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil tetap bisa menjalankan aktivitasnya.

Jika kelangkaan terus berlanjut tanpa solusi nyata, dampaknya bukan hanya pada dapur yang tak bisa menyala, melainkan hilangnya lapangan kerja dan menurunnya daya beli masyarakat secara luas.

Para pelaku usaha dan masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan. Langkah yang mendesak dilakukan antara lain:

– Menambah kuota pasokan tabung 3 kg sesuai kebutuhan riil setiap daerah

– Memperketat pengawasan agar tabung subsidi tidak diselewengkan ke jalur komersial

– Memperbaiki sistem distribusi agar merata hingga ke pelosok desa

– Memberikan sosialisasi dan sanksi tegas bagi oknum yang menimbun atau memperjualbelikan tabung subsidi secara ilegal

Tabung gas 3 kg bukan sekadar alat memasak. Ia adalah sumber kehidupan bagi jutaan keluarga dan pelaku usaha kecil di Indonesia. Kelangkaan yang terjadi saat ini bukan sekadar masalah logistik — ini adalah masalah ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Jika dibiarkan, bukan hanya kompor yang padam, melainkan harapan untuk maju yang perlahan ikut redup.

“Pasokan yang lancar bukan kemewahan, melainkan hak rakyat. Jangan biarkan tabung kosong menjadi alasan usaha rakyat ikut berhenti.”

Bagikan :