Oleh: Syamhunter

Padam listrik bergilir kini menjadi keseharian yang tak terelakkan bagi sebagian masyarakat. Saat jadwal pemadatan tiba, kesibukan kecil namun mendesak menyelimuti rumah-rumah: handphone dicas berulang kali agar tetap terhubung, air ditampung dalam bermacam wadah agar tak kesulitan saat keran tak mengalir, lampu senter dan lilin disiapkan di sudut-sudut ruangan.

Semua dilakukan agar kehidupan tetap berjalan nyaman meski cahaya dari pilar tak lagi menyala. Jumat 4 September 2026.

Kita sangat cermat mempersiapkan hal-hal yang bersifat sementara. Kita khawatir baterai habis lalu tak bisa berkomunikasi. Kita cemas tangki air kosong lalu tak bisa berwudu, mandi, atau minum. Kita sibuk mengamankan kenyamanan duniawi yang hanya bertahan sebentar.

Namun, di tengah kesibukan itu, muncul satu pertanyaan sederhana namun menampar hati: jika listrik kehidupan kita—yaitu nyawa—tiba-tiba padam tanpa pemberitahuan sebelumnya, apakah kita sudah siap menghadap Sang Pemilik Nyawa?

Padamnya listrik bergilir itu ada jadwalnya, ada pemberitahuannya, dan bisa diprediksi. Tapi kematian? Ia tak punya jadwal pasti. Tak ada notifikasi, tak ada peringatan di layar ponsel, tak ada waktu untuk meminta penundaan. Saat malaikat maut datang, tak ada kesempatan untuk “mengisi ulang” amal yang kurang, atau “menampung” kebaikan yang belum sempat dilakukan.

Kita sibuk memastikan ponsel selalu penuh daya, tapi seberapa sering kita mengisi hati dengan zikir, bacaan Al-Qur’an, dan amal saleh yang menjadi bekal di alam akhirat? Kita berhati-hati menyimpan air untuk kebutuhan dunia, tapi sudahkah kita menampung air wudhu yang didahului niat ikhlas, atau sedekah yang mengalir deras meski nilainya kecil.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Man faaqa ajaluhu faqad faqa umruhu” — barangsiapa yang ajalnya telah tiba, maka berakhirlah masa hidupnya. Tak peduli apakah listrik sedang menyala atau mati, apakah air melimpah atau sulit didapat, kesiapan seorang hamba terletak pada dua hal: keimanan yang kokoh dan amal yang diterima Allah SWT.

Mempersiapkan diri menghadap Allah bukan berarti kita menolak kesibukan dunia. Tetap mengisi daya ponsel, menampung air, dan menjaga keluarga adalah hal yang wajar dan perlu.

Namun jangan sampai kesibukan itu membuat kita lupa pada persiapan yang jauh lebih penting: memperbaiki niat, memperbanyak ibadah, menjauhi maksiat, dan memperlakukan sesama dengan baik.

Saat nanti lampu padam kembali, dan kita duduk dalam kegelapan sambil menunggu cahaya datang, biarlah momen itu menjadi waktu merenung: apakah jiwaku sudah bercahaya dengan iman sebelum dipanggil pulang?

Padamnya listrik akan berakhir, nyala akan kembali. Tapi kematian tak akan pernah kembali untuk memberi kesempatan kedua. Maka sebelum lampu kehidupan padam selamanya, mari kita selesaikan persiapan yang sejati — bukan hanya untuk menghadapi kegelapan malam, tapi untuk menghadap Allah dengan hati yang tenang dan amal yang siap.

“Dan persiapkanlah untuk mereka apa yang mampu kalian persiapkan, dan ketahuilah bahwa apa yang kalian kerjakan akan ditunjukkan kepada Allah.” — (QS. Al-Baqarah: 254, makna terjemahan).

Bagikan :