Oleh: Syamsuddin, ST.,CFLE.CLA.,CPLA.,CJI.,CILJ Pemimpin Redaksi bedahnusantaraindonesia.co.id

Dunia jurnalistik bukan sekadar pekerjaan mencari berita, melainkan sebuah perjalanan panjang kehidupan yang penuh dengan lika-liku, tantangan, serta ribuan kisah yang terukir di setiap langkahnya. Menjadi seorang jurnalis adalah pilihan yang membawa kita untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengabarkan kebenaran kepada masyarakat.

Awal Mula: Mengukir Jejak Sejak 1996

Perjalanan ini dimulai sejak tahun 1996. Saat itu, saya memulai karier sebagai seorang koresponden hingga dijuluki wartawan muda yang penuh semangat, bergabung di salah satu media cetak ternama, Tabloid Momen. hingga di beberapa media harian pagi. Dari situlah benih kecintaan terhadap dunia pers mulai tumbuh subur.

Selama bertahun-tahun, pengalaman demi pengalaman saya kumpulkan. Saya sempat berpindah dari satu media ke media lainnya, bukan tanpa alasan, melainkan untuk memperluas wawasan, memahami karakter media yang berbeda, dan tentu saja memperkaya khazanah keilmuan dalam dunia kewartawanan.

Setelah menempuh perjalanan panjang di berbagai institusi media, akhirnya tekad bulat muncul untuk mendirikan sebuah wadah perjuangan sendiri. Pada tanggal 14 Januari 2017, lahirlah bedahnusantaraindonesia.co.id.

Kini, media yang saya dirikan telah menginjak usia ke-11 tahun. Perjalanan satu dekade lebih ini bukanlah waktu yang singkat. Banyak cerita, dinamika, dan perjuangan yang dilalui hingga portal berita ini bisa tetap eksis, bertahan, dan terus berkarya di tengah gempuran informasi digital saat ini.

Filosofi Kepemimpinan: “Memaksa” untuk Mandiri

Di balik pengelolaan bedahnusantaraindonesia.co.id, ada sebuah filosofi kepemimpinan yang mungkin terlihat unik namun sangat tulus saya terapkan.

Bagi saya, menjadi Pemimpin Redaksi bukan hanya soal memimpin redaksi dan menerbitkan berita. Lebih dari itu, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak kader-kader jurnalis yang tangguh dan mandiri.

Seringkali saya lakukan hal yang berbeda: Ketika saya melihat potensi pada diri seorang pewarta, ketika saya menilai mereka sudah layak dan memiliki kapasitas untuk berdiri di atas kaki sendiri, saya justru “memaksa” mereka untuk berani mendirikan medianya sendiri atau memimpin di tempat lain.

“Saya tidak pernah merasa takut atau khawatir jika staf saya kelak menjadi atasan. Justru itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri”, kata penulis ini.

Bukti Nyata: Puluhan Mantan Wartawan Kini Jadi Pemred

Bukti dari komitmen tersebut kini sudah nyata terlihat. Tidak main-main, sudah puluhan mantan wartawan yang pernah bekerja bersama saya, kini telah sukses menyandang predikat sebagai Pemimpin Redaksi di media masing-masing.

Mereka kini tidak lagi menjadi bawahan, melainkan telah tumbuh menjadi pemimpin yang tangguh, profesional, dan memiliki integritas. Hal ini menjadi bukti bahwa mendidik, membimbing, dan melepas mereka untuk mandiri adalah keputusan yang tepat.

“Bagi saya, kesuksesan seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa banyak orang yang bekerja di bawahnya, melainkan dari seberapa banyak orang sukses yang pernah ia lahirkan dan bimbing.

Terima kasih untuk perjalanan 30 tahun lebih ini. Semoga semangat pers yang bebas dan bertanggung jawab terus menyala, baik bagi saya pribadi, maupun bagi rekan-rekan sejawat yang kini telah menjadi pemimpin di medan perjuangannya masing-masing.

Salam Pers.

Bagikan :