Takalar-BNI.co.id

Perselisihan antarpelajar yang berujung tawuran menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Untuk mencegah konflik meluas dan berulang, Bhabinkamtibmas Desa Bontomanai, AIPTU Chairil Anwar, S.Psi., bersama unsur Tiga Pilar Desa Bontomanai, menggelar problem solving dengan mempertemukan pihak-pihak yang terlibat dalam perselisihan tersebut.

Mediasi berlangsung di Aula Polsek Marbo, Desa Bontomanai, Kecamatan Mangarabombang (Marbo), Kabupaten Takalar, Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 10.30 Wita. Perselisihan itu melibatkan pelajar SMP Negeri 3 dan SMP Negeri 5 Marbo.

Dalam proses penyelesaian, kedua belah pihak dihadirkan bersama guru dan orang tua masing-masing. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk menjernihkan kesalahpahaman, mendengarkan keterangan pihak-pihak terkait, serta mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama melalui pendekatan kekeluargaan.

Kehadiran orang tua dan pihak sekolah menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Penyelesaian konflik tidak hanya diarahkan untuk meredakan ketegangan, tetapi juga membangun kesadaran para pelajar agar tidak mengulangi tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kapolsek Marbo, AKP Asri, S.H., saat dihubungi mengatakan bahwa pendekatan problem solving merupakan salah satu upaya kepolisian dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat, termasuk perselisihan yang melibatkan kalangan pelajar.

Menurut dia, persoalan antarpelajar perlu ditangani secara cepat dan bijaksana agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

“Perselisihan antarpelajar harus disikapi dengan kepala dingin dan mengedepankan dialog. Kami mengajak semua pihak, baik pelajar, orang tua maupun pihak sekolah, untuk bersama-sama mencari solusi terbaik sehingga persoalan dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak berujung pada tawuran,” ujar AKP Asri.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mengawasi pergaulan serta membimbing anak-anak agar mampu menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan. Menurut dia, menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Jangan sampai kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi justru berujung pada tindakan yang merugikan masa depan para pelajar. Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar anak-anak lebih mengutamakan persaudaraan, saling menghargai, dan tidak mudah terprovokasi,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas bersama Tiga Pilar Desa Bontomanai berupaya memperkuat penyelesaian masalah melalui musyawarah sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.

Upaya ini juga menjadi pengingat bahwa pencegahan tawuran membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara kepolisian, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar para pelajar dapat menyalurkan energi mereka pada kegiatan yang positif, tanpa harus terjebak dalam konflik antarkelompok.

Bagikan :