Samarinda-BNI.co.id

Program Probebaya kembali menjadi bahan perbincangan publik setelah sebuah baliho proyek yang terpasang di kawasan RT 07 Gang Kampus Biru, Kelurahan Sempaja Selatan, Kota Samarinda, ramai dibicarakan.

Proyek tersebut bertuliskan kegiatan SAPRAS/Drainase (Box Culvert) dengan total anggaran Rp21.365.709,14. Kegiatan dilaksanakan oleh Pokmas Permata dengan waktu pelaksanaan selama 30 hari kalender dan bersumber dari APBD Kota Samarinda Tahun Anggaran 2025 melalui program Probebaya.

Meski papan informasi proyek telah terpampang sesuai ketentuan, angka dalam baliho itu menimbulkan tanda tanya di kalangan warga. Beberapa warga mempertanyakan nilai pekerjaan tersebut dan manfaat yang dapat dicapai dengan anggaran kurang dari Rp25 juta untuk pekerjaan drainase.

Warga Bertanya: Apakah Anggaran Efektif? Sejumlah warga menilai pembangunan drainase di wilayah padat penduduk umumnya memerlukan anggaran yang lebih besar, terutama jika melibatkan material beton, penggalian, dan konstruksi box culvert.

“Kalau box culvert dikerjakan sesuai standar, biayanya bisa cukup besar. Kami hanya bertanya, apakah dengan Rp21 juta bisa menghasilkan drainase yang benar-benar berfungsi?” ujar salah satu warga saat ditemui.

Warga menegaskan bahwa pertanyaan tersebut bukan bentuk keberatan, tetapi bagian dari kepedulian agar program berjalan optimal dan bermanfaat.

Probebaya: Program Bagus yang Butuh Pengawasan Program Probebaya sendiri dikenal sebagai program kolaboratif berbasis wilayah yang melibatkan Ketua RT, Pokmas, dan warga untuk menangani kebutuhan lingkungan secara langsung. Namun, tantangan terbesar program ini adalah memastikan:

1. Standar pekerjaan,
2. Transparansi penggunaan anggaran,
3. Mutu hasil di lapangan,
4. Dan akuntabilitas pelaksana kegiatan.

Beberapa pengamat pembangunan menilai program seperti ini memang efektif jika ada pengawasan dan pelaporan yang jelas.

Harapan: Transparansi dan Publikasi Hasil Sejumlah warga berharap pihak kelurahan atau Pokmas dapat memberikan penjelasan teknis terkait spesifikasi pekerjaan agar masyarakat mengetahui:

1. Ukuran box culvert yang dibangun,
2. Panjang drainase yang dikerjakan,
3. Jenis material yang digunakan,
4. Dan progres pekerjaan secara berkala.

Selama anggarannya jelas, pekerjaannya sesuai dan manfaatnya dirasakan, tentu masyarakat akan mendukung” tapi apa cukup dengan anggaran sekecil itu,” kata warga yang enggan di tulis namanya.

Pemerintah Diingatkan, Infrastruktur Kecil, Dampaknya Bisa Besar Dalam konteks lingkungan permukiman padat di Samarinda, pembangunan drainase bukan hanya soal konstruksi fisik, tetapi juga upaya mencegah banjir, memperlancar aliran air, hingga menjaga sanitasi warga.

Karena itu, meskipun anggarannya tidak besar, masyarakat berharap program ini tetap memberikan hasil yang nyata dan sepadan dengan kebutuhan di lapangan.

Pertanyaan publik bukan soal penolakan, tetapi soal transparansi. Bagi warga, informasi teknis, laporan pelaksanaan, dan hasil fisik menjadi kunci agar program Probebaya tetap dipercaya dan membawa manfaat nyata.

Masyarakat kini menanti progres pekerjaan dan berharap proyek yang didanai dari APBD tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar.

Bagikan :