Jakarta-BNI.co.id
Bedahara Umum (Bendum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Siti Nur Aulia dikabarkan mengudurkan diri sebagai Bendahara usai dirinya tak pernah lagi dilibatkan dalam setiap kegiatan yang dilakukan DPP GMNI dan carut-marutnya kepeminpinan yang ada didalamnya.
Pengunduran diri Siti Nur Aulia sebagai Bendahara Umum DPP GMNI diumumkan pada sebuah Surat Penguduran Diri yang dibuatnya sendiri tanggal (18/2/2025) dan beredar luas digrup-grup WhatsApp GMNI Se-Indonesia.
Didalam Surat Pengunduran dirinya, Siti Nur Aulia juga mengungkapkan bahwa kepengurusan DPP GMNI dibawah Kepemimpinan Imanuel-Sojarhi saat ini telah carut marut.
Carut-marut itu dijelaskan Siti Nur Aulia dikarenakan, tidak berjalannya mekanisme formal organisasi, tidak dilibatkannya pengurus inti dalam proses pengambilan keputusan, langkah taktis, serta langkah strategis, dan hilangnya itikad persatuan.
Terkait tidak berjalannya mekanisme formal organisasi, ia menjelaskan bahwa sejak bulan September 2023 hingga bulan Desember 2024 hanya ada satu kali rapat pleno DPP GMNI.
“Tidak berjalannya mekanisme formal organisasi dan itu hanya terselenggara satu kali Pleno DPP GMNI sejak bulan September 2023 hingga bulan Desember 2024,” ujar Sarinah Aulia sapaan akrabnya.
Ia juga mengungkapkan carut-marutnya dalam pengambilan keputusan dengan tidak dilibatkannya pengurus inti di DPP GMNI dalam pengambilan keputusan termasuk kebijakan langkah taksis dan strategis yang akan dilakukan organisasi.
“Tidak dilibatkannya pengurus inti dalam proses pengambilan keputusan, langkah taktis, serta langkah strategis. Inkonsistensi Ketua Umum dalam melakukan konsolidasi internal DPP GMNI ini menjadi salah satu hambatan bagi percepatan pelaksanaan agenda orgaisasi itu sendiri,” ungkap Sarinah Aulia.
Hanya karena tidak ada pelibatan pengurus inti dalam pengambilan keputusan, pada akhirnya, hubungan kekeluargaan dalam internal pengurus DPP GMNI, juga semakin meredup; tergantikan dengan relasi yang cenderung terasa seperti patron-klien. Akibatnya, hampir semua pengurus DPP tidak maksimal dalam mengemban tanggung jawab jabatannya masing-masing.
Carut marut berikutnya ia katakan tentang hilangnya itikad baik untuk persatuan GMNI yang dilakukan oleh Imanuel sebagai ketua umum untuk mengakhiri dualisme di tubuh GMNI, padahal kata dia, itu adalah amanat Rapimnas GMNI XXII di Ancol Jakarta.
“Pasca Pleno DPP GMNI pada tanggal 8 Januari 2025, pernyataan Ketua Umum, berbagai informasi, dan spekulasi simpang siur yang menjurus pada mulai melemahnya komitmen akan persatuan, mulai bermunculan.
Hal ini dapat dilihat misalnya dengan pernyataan keengganan Ketua Umum untuk menanggapi usaha komunikasi yang dilakukan oleh pihak yang melakukan claim atas kepengurusan yang sah (Arjuna-Dendy),”
Masih persoalan persatuan dari keterangannya, Siti Nur Aulia juga menuliskan tentang dirinya yang menyuarakan persatuan ditubuh GMNI tetapi tak pernah digubris oleh Imanuel sebagai Ketua Umum.
“Teguran terhadap pengurus yang menggalang cabang untuk menyerukan persatuan, juga sempat disampaikan. Padahal, Kongres Persatuan merupakan amanat Rapimnas XXII.
Informasi tentang rencana men- caretaker-kan semua cabang Arjuna-Dendy dan tidak transparannya sumber dukungan penyelenggaraan kongres XXII, juga merupakan hal-hal dapat menggambarkan secara jelas bahwa itikad untuk menyelenggarakan kongres persatuan telah hilang,” tambah Sarinah Aulia.
Sebagai Bendum DPP GMNI, Siti Nur Aulia melanjutkan bahwa niatan untuk mengundurkan diri dari pengurus inti DPP GMNI, sejatinya telah beberapa kali muncul.
Namun, karena pertimbangan masih adanya harapan akan perbaikan dan masukan-masukan dari berbagai pihak, hal tersebut ia urungkan.
“Niatan ini sudah lama, tetapi karena pertimbangan akan perbaikan dan masukan dari berbagai pihak, maka tidak saya lakukan.
Langkah ini dengan berat hati terpaksa saya ambil, mengingat upaya membangun komunikasi yang khusus maupun terbuka, khususnya terkait persatuan GMNI kedepan, tidak lagi diindahkan,” lanjut Sarinah Aulia.
Diakhir, Siti Nur Aulia menuliskan permohonan maafnya kepada GMNI atas banyaknys kesalahan dan kekurangannya selama ia menjadi Bendahara Umum DPP GMNI.
“Demikian surat pernyataan pengunduran diri ini saya sampaikan. Sebagai kader dan pribadi saya mohon maaf, atas banyak kesalahan,dan kekurangan saya selama menjadi Bendahara Umum DPP GMNI. Semoga Tuhan dan Leluhur merestui. Merdeka!,” tandas Sarinah Aulia.






